Moody's Menilai Laju Pertumbuhan Industri Gaming di Asia 6% Hingga 2024

Moody's Menilai Laju Pertumbuhan Industri Gaming di Asia 6% Hingga 2024

Baru-baru ini, Moody's, sebuah lembaga penilaian kredit global, merilis analisis yang memperkirakan kenaikan sebesar 5% hingga 6% pada pendapatan bruto sektor permainan (GGR) di Asia dalam jangka waktu 12 hingga 18 bulan mendatang. Namun, pertumbuhan industri gaming di Asia tersebut kemungkinan akan berbeda pada setiap wilayah.

Analisis Moody's terhadap GGR

Peningkatan pendapatan dari industri gaming di Asia, menurut Moody's, sangat terpengaruh oleh respons konsumen terhadap perubahan pada harga energi. Ini menunjukkan bahwa faktor-faktor eksternal sangat berperan dalam menentukan daya beli konsumen di berbagai pasar.

Macau: Pemain Utama di Wilayah

Macau diproyeksikan mengungguli wilayah lainnya dalam hal pertumbuhan pendapatan gaming. Kedekatan geografis dengan Tiongkok daratan memberikan Macau keuntungan dalam menarik lebih banyak kunjungan domestik, yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan gaming hingga 6% pada tahun 2026, diikuti peningkatan 4-5% di tahun berikutnya. Moody's memprediksi GGR di Macau bisa mencapai 90% dari level 2019 pada tahun 2026, dan meningkat menjadi 90-95% di tahun 2027, dibantu oleh segmen VIP yang lebih kecil namun stabil.

Hambatan di Asia Tenggara

Perusahaan gaming di Asia Tenggara berhadapan dengan tantangan akibat melonjaknya harga energi, terutama yang mempengaruhi perjalanan udara untuk keperluan pariwisata. Moody's memproyeksikan pertumbuhan pendapatan di wilayah ini akan tetap berada pada angka satu digit untuk tahun 2026 dan 2027.

Kontras Antara Pasar Macau dan Asia Tenggara

Menurut Moody's, terdapat perbedaan yang mencolok dalam pola wisata dan basis pelanggan antara Macau dan Asia Tenggara. Dengan ketergantungan yang lebih rendah terhadap harga bahan bakar, Macau dapat lebih mudah menyesuaikan diri dengan fluktuasi dibandingkan dengan Asia Tenggara.

Sudut Pandang Operator Gaming di Luar Macau

Di tempat lain di luar Macau, Genting Bhd Malaysia diperkirakan akan melihat sedikit peningkatan dalam EBITDA, yang diramalkan naik menjadi MYR8.9 miliar hingga MYR10.0 miliar dari MYR8.2 miliar pada tahun 2025, berkat pembukaan kasino baru di kota New York.

Stabilitas di Malaysia dan Singapura

Operasi Genting di Malaysia, terutama sebagai monopoli kasino di Resorts World Genting, diharapkan dapat tetap stabil meskipun menghadapi tantangan biaya operasional yang meningkat. Sementara di Singapura, Genting Singapore Ltd, yang memiliki Resorts World Sentosa, diproyeksikan akan mengalami penurunan profit sekitar 5% pada tahun 2026 karena meningkatnya persaingan.

Kesimpulan

Laporan dari Moody's menekankan optimisme mengenai pertumbuhan pendapatan industri gaming di Asia, terutama di Macau, meskipun terdapat tantangan eksternal seperti fluktuasi harga energi. Di sisi lain, operator di Asia Tenggara masih menghadapi beban yang lebih berat, namun tetap memiliki potensi pertumbuhan.